Launching Buletin "BIAS", Mahasiswa KPI Ipmafa Makin Produktif

Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Institut Pesantren Matali'ul Falah (KPI IPMAFA) menyelenggarakan launching buletin film perdana yang mereka namakan "BIAS" dengan tema Romansa dan Budaya Dalam Film Indonesia (28/2/2021). 

Launching yang bertempat di aula 2 Ipmafa ini dihadiri oleh Kaprodi KPI Ipmafa, Isyrokh Fuaidi LL M dan Dosen Sinematografi Fajar MSI dan diikuti oleh mahasiswa KPI. Launching juga disiarkan langsung di youtube KPI IPMAFA dan Zoom. 

Kaprodi KPI, Isyrokh Fuaidi menyampaikan tentang perkembangan teknologi saat ini yang sangat pesat harus ditunjang dengan kemampuan atau skill mahasiswa yang memadai. Semakin banyak mahasiswa membuat sebuah karya, maka otomatis banyak manfaat yang bisa diberikan dan dinikmati oleh semua orang terutama adik-adik angkatan di bawah kita. 

Atas nama Prodi, Isyrokh juga mengapresiasi hadirnya buletin ini. "Mahasiswa tidak pintar dalam memproduksi konten visual, tapi ini bukti bahwa mahasiswa KPI piawai dalam karya-karya yang sifatnya intelektual. Dengan banyaknya karya yang dibuat oleh mahasiswa, hal itu menunjukkan mahasiswa KPI yang dinamis dan kreatif.  

Sementara Fajar sebagai dosen pendamping matakuliah sinematografi menyampaikan bahwa buletin BIAS adalah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya berkarya pada skill audio dan video, tapi juga aktif dalam skill menulis. Hal itu juga sebagai penanaman nilai kepada mahasiswa untuk dapat memberikan apresiasi terhadap karya orang lain terutama dalam karya film.




Launching Film "BIAS", Mahasiswa KPI Mendapat Apresiasi

Mahasiswa KPI Ipmafa terus melakukan kreasi dan inovasi selama perkuliahannya. Masih di tengah masa kuliah daring ini, mahasiswa KPI melakukan launching buletin KPI yang dinamakan "BIAS" (28/2/2021).

Sebelumnya mereka juga melakukan screening 11 film pendek yang secara maraton diproduksi oleh mahasis KPI semester 6. Launching disiarkan secara online melalui Youtube dan Zoom dan diisi oleh Ketua Prodi KPI Isyrokh Fuaidi dan dosen sinematografi Fajar Adhi Kurniawan.

Dalam bincang santai itu, Isyrokh menyampaikan profil Prodi KPI Ipmafa yang cukup prospektif. Di KPI Ipmafa terdapat banyak hal yang menarik karena mahasiswa dapat belajar banyak skill komunikasi dan penyiaran. Atas nama Prodi KPI Ipmafa, Isyrokh mengapresiasi terbitnya buletin BIAS milik mahasiswa yang mengupas tentang review film di Indonesia.

Buletin BIAS Edisi 1 Tahun 2021



Live Launching Buletin "BIAS" Romansa dan Budaya Dalam Film Indonesia

Selamat Untuk HMPS KPI




Logo BIAS KPI IPMAFA

 

Apa Sih Prospek Kerja Prodi KPI?

Undangan Launching Buletin Film BIAS

 


Erna Mulyani, Mahasiswa KPI Terbaik di Fakultas Dakwah dan Pengembangan Masyarakat

 


Koordinasi Fakultas Dakwah Dalam Persiapan Kuliah Semester Genap 2020-2021

 


Menjelang perkuliahan semester genap tahun akademik 2020-2021, Fakultas Dakwah mengadakan rapat koordinasi di tingkat fakultas. Hadir dalam forum tersebut Dekan Fakultas Dakwah Sri Naharin MSI, Ketua Prodi PMI Nur Khoiriyah MA, Sekprodi PMI Siti Asiyah MSos, Ketua Prodi KPI Isyrokh Fuaidi LLM dan Sekprodi KPI Arif Chasanuddin MPd (24/2/2021). Koordinasi tersebut untuk membahas hal-hal penting terkait persiapan kuliah yang masih menerapkan sistem daring secara umum.

Dalam forum tersebut juga dibahas hal penting lain seperti persiapan akreditasi, penerapan anggaran PMB, perawatan dan penentuan SOP Lab Dakwah. Kesiapan dosen pengampu matakuliah juga menjadi pembahasan serius 

Dalam hal akreditasi sebaiknya disiapkan sejak dini karena kedua Prodi di fakultas dakwah di tahun 2022 akan mengajukan reakreditasi dengan mengikuti 9 standar dan BANPT. Kemudian Lab Dakwah akan dilakukan labelisasi alat dan diterapkan SOP yang jelas terkait penggunaan alat dan dijaga oleh spesialis workshop untuk perawatan alat-alat broadcast. PMB juga dilakukan lebih intensif dengan menggandeng beberapa sekolahan.

Pendampingan Warek I Bidang Akademik Dalam Proses Review Kurikulum - Part 2

 


Kurikulum akademik menjadi salah satu komponen dasar dalam sistem pendidikan perguruan tinggi khususnya Prodi KPI Ipmafa. Dari kurikulum tersebut dapat diketahui kemana arah kompetensi lulusan dan output lembaga yang dibutuhkan oleh masyarakat dan para stakeholder. Oleh sebab itu, Program Studi yang ada harus melakukan proses-proses terkait penyiapan dan penetapan kurikulum sesuai standar yang ditentukan pemerintah.

Oleh sebab itu, Prodi KPI Ipmafa menindaklanjuti dengan melakukan review kurikulum bersama Fakultas Dakwah dan Wakil Rektor I Bidang Akademik Ipmafa (20/2/2021). Dalam review tersebut dilakukan pendalaman dan pembahasan spesifik terkait penyiapan kurikulum yang baku dan standar sesuai ketentuan KKNI dan kampus merdeka. 

Dalam kesempatan itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. Ahmad Dimyati menjelaskan banyak hal terkait perangkat apa saja dalam pembentukan sebuah kurikulum meliputi penentuan profil lulusan, bahan kajian, pembentukan matakuliah, struktur matakuliah, dan teknis pengkodean matakuliah.  


Fakultas Dakwah Dalam Persiapan Review Kurikulum - Part 1


Kurikulum menjadi salah satu komponen vital dalam sistem pendidikan perguruan tinggi. Dari kurikulum dapat diketahui arah kompetensi lulusan dan output lembaga yang dibutuhkan oleh masyarakat dan para stakeholder. Oleh sebab itu, Fakultas Dakwah Ipmafa terdiri dari struktur Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) melakukan persiapan terkait langkah-langkah awal dalam program review kurikulum (12/2/2020).

Persiapan ini penting agar tahapan-demi tahapan review kurikulum dapat dilakukan dengan baik sekaligus hasil yang diperoleh sesuai dengan visi-misi Prodi dan lembaga Ipmafa. Di kegiatan persiapan ini diisi oleh Dr. Agus Syakroni, Dekan Fakultas Tarbiyah.

Agus menjelaskan terkait tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam proses review kurikulum program studi. Tahapan ini meliputi proses analisis, desain, pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Review kurikulum dimulai dari hal yang paling dasar yaitu landasarn filosofis, sosiologis, psikologis, historis dan yuridis.

Penetapan profil lulusan juga menjadi penting dan diharapkan sesuai kebutuhan masyarakat jaman sekarang. Kurikulum yang lama sudah seharusnya dilakukan beberapa revisi dan reorientasi karena adanya perubahan dinamika dan perilaku masyarakat yang jauh berbeda dengan jama dahulu. Dengan demikian lulusan perguruan tinggi dapat diterima masyarakat baik dari sisi lapangan kerja maupun sosial.

Waktu Shalat


 

Mahasiswa KPI Ikuti Webinar Menjadi Moderat di Media Sosial


Paska ujian akhir semester, beberapa mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Ipmafa mengikuti acara webinar yang diadakan oleh mahasiswa KKN MIT DR XI UIN Walisongo Semarang, Senin (08/2/2021). Mereka tertarik karena tema yang diangkat berkaitan dengan ilmu komunikasi yang mereka pelajari yaitu "Menjadi Moderat di Media Sosial".

Webinar menghadirkan beberapa narasumber professional di bidangnya yaitu Dr. H. Najahan Musyafak (Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang), Syifa R. Dewi (Tim Media @Lensamu (Persyarikatan Muhammadiyah), dan Aro Muhammad (Admin @alasantri).

Tema webinar ini menjadi penting karena kegiatan dakwah Islam tidak terlepas dari pemanfaatan media sosial sebagai sarana menyebarkan pengaruh. Mulai dari kelompok Islam yang paling moderat sampai yang berpaham konservatif dapat menyebarkan kontennya di media sosial. Konten-konten tersebut mau tidak mau dapat diakses dan dinikmati secara umum.

Dalam kesempatan itu, para narasumber sepakat bahwa media sosial telah menjadi bagian dari perilaku individu dan masyarakat dan sebagai piranti untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh sebab itu diperlukan sikap yang cermat, cerdas, kritis dan kehati-hatian yang tinggi dalam mengolah atau memproduksi suatu konten di media sosial.

"Kita sebagai mahasiswa harus menguatkan literasi digital bagi masyarakat dan membangun smart user dan pengawas yang bijak. Selain itu perlu juga dibentuk komunitas virtual yang secara masif membangun social power berbasis media digital sehingga menjadi agen literasi dan moderasi beragama." tutur Anang Rivai, mahasiswa KPI Ipmafa yang mengikuti forum webinar.



Pentingnya Pemilihan Warna Dalam Film



Oleh: Fajar Adhi Kurniawan, S.I.Kom, M.Si*

Seorang sinematografer haruslah peka terhadap komposisi, tidak hanya pada camera movement dan tools yang digunakan tetapi juga pada aspek warna yang ingin dituju untuk sebuah film. Bersamaan dengan cerita, visual adalah aspek utama yang harus benar benar diperhatikan untuk sebuah film. Selain bertujuan memanjakan mata, pengadaan warna tertentu dapat menimbulkan kesan tertentu baik untuk karakter dalam film ataupun untuk penonton. Penafsiran makna film tidak hanya didapat dari adegan yang terjadi tetapi bisa ditimbulkan melalui warna yang ditampilkan di dalam film tersebut.

Bagaimana sutradara atau sinematografer bisa menyebut penggunaan warna yang baik dalam sebuah film? Sederhana tapi sulit dilakukan oleh pembuat film yang tidak menguasai warna, karena didalam film warna juga menggerakkan suasana dan memperkuat cerita dalam film. Pada mulanya warna dalam film dilakukan secara manual yaitu mencelupkan film ke dalam cairan tinta yang khusus dibuat untuk pewarnaan film waktu itu. Tetapi yang bisa dicapai oleh pewarnaan manual hanyal satu spektrum warna saja yang akhirya hanya menimbulkan satu kesan saja dalam setiap film. Kemudian dengan teknik manual biaya dan waktu yang dikeluarkan pun menjadi sangat mahal dan sangat membebani biaya para produser untuk memproduksi sebuah film.




Seiring berjalannya waktu kini para editor, khusunya colorist sebutan untuk crew yang mempunyai tugas dalam hal pewarnaa, semakin mudah dalam hal pewarnaan didalam sebuah film. Munculnya software pendukung coloring film menjadikan beban biaya dan waktu semakin bisa di kendalikan oleh para film maker. Semakin berkembangnya tools pembantu dalam coloring semakin peka pula filmmaker khusunya sinematografer dalam menangkap spektrum warna. Dalam aspek-aspek seperti usia, budaya, politik, dan lokasi geografis berdampak kepada penafsiran terhadap simbolisme warna dalam film. Misalnya, tiap genre film seperti fiksi-ilmiah, thriller, percintaan, superhero menggunakan warna tertentu untuk menghasilkan identitas di dalam dalam sebuah film. Seperti yang dilakukan oleh sinematografer handal Hollywood Roger Deakins di film Unbroken. Film yang masih berkisah tentang Perang Dunia II ini memiliki tone kekuningan, yang menggambarkan seperti apa seharusnya film bertema sejarah terlihat. Tidak hanya dihiasi oleh visual efek yang canggih, tapi Roger Deakins sang sinematografer juga mampu memperlihatkan momen-momen khas pada saat Perang Dunia.

Warna juga dapat menjadi komuikasi non verbal untuk menyampaikan suatu pesan. Kemudian banyak penelitian mengenai eksistensi warna-warna terhadap psikologi manusia. Dari penelitian tentang warna mempengaruhi psikologi manusia, terdapat fakta bahwa warna dapat mempengaruhi psikologi, suasana hati, emosi, dan kesehatan. Ilmu komunikasi visual menggunakan warna untuk terapi warna atau yang disebut colourology (menggunakan warna untuk meyembuhkan). Seperti contoh penggunaan warna merah yang memiliki arti amarah, gairah, panas, agresi, bahaya, api, darah, perang, kekerasan, akan sangat tidak cocok di masukkan ke dalam genre film keluarga yang menampilkan kehangatan dan happy ending story. Film dengan happy ending haruslah memakai warna kuning yang memiliki arti hikmat, relaksasi, sukacita, kebahagiaan, optimisme, harapan, sesuai dengan keadaan yang dituju didalam sebuah film yang memiliki cerita kehangatan dan romantisme di dalam sebuah keluarga.
Jadi seorang filmmaker yang baik khusunya sinematografer haruslah peka dan baik dalam memahami warna. Karena warna bukan hanya sekedar pemanis dalam menghasilkan sebuah gambar, tetapi lebih luas dari pada itu warna bisa digunakan untuk memperkuat cerita, mempengaruhi penonton dan juga sebagai terapi psikologis.


*Penulis adalah dosen tetap Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Ipmafa

Gambar Bagus Atau Gambar Bermakna


Oleh: Fajar Adhi Kurniawan, S.I.Kom, M.Si*

Media massa dalam cakupan pengertian komunikasi massa adalah radio, surat kabar, majalah, televisi dan film. Tanpa adanya emosi di dalam media massa juga akan sangat membosankan. Emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan. Film memiliki kesanggupan untuk memainkan ruang dan waktu serta mengembangkan dan mempersingkat secara bebas dalam batasan wilayah yang sangat luas. Dengan adanya media massa penyebaran informasi lebih mudah dan cepat. Perkembangan media khusunya film, menuntut Imajinasi yang sangat tinggi bagi sutradara dalam pembuatan film untuk dijadikan sebagai bentuk komunikasi dalam penyampaian makna emosi. Di dunia sinematografi sebuah gambar tidak hanya dimaknai sebagai proses penciptaan secara teknis tetapi juga harus memasukkan unsur emosi didalam setiap shot yang akan diambil.



Perencanaan gambar tidak hanya tentang alat yang mahal dan gambar yang bening, tetapi pada prakteknya sutradara yang berkolaborasi dengan director of photography/penata gambar harus bisa membuat gambar yang merepresentasikan emosi dari skrip yang sudah ada. Makna emosi pun bukan berdasarkan pada pemikiran penata gambar yang hanya fokusnya pada alat/teknis tetapi harus dibuat berdasarkan kebutuhan skrip. Penggambaran makna emosi bahagia, sedih, senang, histeris dan lain sebagainya harus betul terlihat jelas dalam sebuah gambar yang diambil, sehingga penonton akan ikut merasakan emosi yang ditawarkan oleh sutradara dan penata gambar dalam sebuah karya film.

Seperti yang disebutkan di dalam buku memahami film karya himawan pratista yang dirilis tahun 2008, unsur sinematografi secara umum dapat dibagi menjadi 3 yaitu kamera dan film, framing, serta durasi gambar. Dalam unsur kamera dan film mencakup teknik-teknik yang dapat dilakukan melalui kamera dan stok filmnya, seperti warna, penggunaan lensa, kecepatan gerak gambar dan sebagainya. Begitupun Framing yang harus betul pas dengan makna emosi yang akan disampaikan, Framing adalah hubungan kamera dan objek yang diambil seperti batasan wilayah atau frame, jarak, ketinggian, pergerakan kamera dan lain sebagianya. Dari ketiga unsur yang sudah disebutkan yang terakhir adalah durasi gambar yang berarti lamanya sebuah objek diambil gambarnya melalui kamera. Pemilihan teknik kamera yang jelas, framing dan durasi dalam menampilkan emosi akan menjadi nilai tambah untuk sebuah shot yang diambil.

Kemudian kebutuhan size shot dalam penggambaran makna emosi juga harus dipilih secara baik oleh sutradara dan penata gambar. Sebuah dialog di scene film menampilkan emosi sedih seorang aktor/aktris, seorang penata gambar harus peka dalam memilih size shot contohnya close up. Sehingga hasilnya pengambilan close up tidak hanya berfokus pada keindahan background bokeh (blur) dibelakang aktor atau aktris yang kita ambil gambarnya. Tetapi di dalam size shot close up yang diambil oleh seorang penata gambar mengandung makna detail kesedihan yang sedang dialami oleh aktor/aktris berdasarkan kebutuhan skrip.

Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa pengambilan gambar bukan berdasarkan hal teknis saja tetapi harus dilihat dari kebutuhan makna emosi yang ada di dalam sebuah skrip film. Sutradara yang baik haruslah tahu teknis begitupun sebaliknya penata gambar yang baik haruslah bisa memaknai skrip dengan baik. Pemuatan makna yang baik akan menjadikan film akan sangat menarik untuk di tonton bahkan bisa dijadikan bahan diskusi.

*Penulis adalah dosen tetap Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam 

DON'T MISS

Berita, Podcast, Video, HMPS
© all rights reserved
made with by templateszoo