Pentingnya Pemilihan Warna Dalam Film



Oleh: Fajar Adhi Kurniawan, S.I.Kom, M.Si*

Seorang sinematografer haruslah peka terhadap komposisi, tidak hanya pada camera movement dan tools yang digunakan tetapi juga pada aspek warna yang ingin dituju untuk sebuah film. Bersamaan dengan cerita, visual adalah aspek utama yang harus benar benar diperhatikan untuk sebuah film. Selain bertujuan memanjakan mata, pengadaan warna tertentu dapat menimbulkan kesan tertentu baik untuk karakter dalam film ataupun untuk penonton. Penafsiran makna film tidak hanya didapat dari adegan yang terjadi tetapi bisa ditimbulkan melalui warna yang ditampilkan di dalam film tersebut.

Bagaimana sutradara atau sinematografer bisa menyebut penggunaan warna yang baik dalam sebuah film? Sederhana tapi sulit dilakukan oleh pembuat film yang tidak menguasai warna, karena didalam film warna juga menggerakkan suasana dan memperkuat cerita dalam film. Pada mulanya warna dalam film dilakukan secara manual yaitu mencelupkan film ke dalam cairan tinta yang khusus dibuat untuk pewarnaan film waktu itu. Tetapi yang bisa dicapai oleh pewarnaan manual hanyal satu spektrum warna saja yang akhirya hanya menimbulkan satu kesan saja dalam setiap film. Kemudian dengan teknik manual biaya dan waktu yang dikeluarkan pun menjadi sangat mahal dan sangat membebani biaya para produser untuk memproduksi sebuah film.




Seiring berjalannya waktu kini para editor, khusunya colorist sebutan untuk crew yang mempunyai tugas dalam hal pewarnaa, semakin mudah dalam hal pewarnaan didalam sebuah film. Munculnya software pendukung coloring film menjadikan beban biaya dan waktu semakin bisa di kendalikan oleh para film maker. Semakin berkembangnya tools pembantu dalam coloring semakin peka pula filmmaker khusunya sinematografer dalam menangkap spektrum warna. Dalam aspek-aspek seperti usia, budaya, politik, dan lokasi geografis berdampak kepada penafsiran terhadap simbolisme warna dalam film. Misalnya, tiap genre film seperti fiksi-ilmiah, thriller, percintaan, superhero menggunakan warna tertentu untuk menghasilkan identitas di dalam dalam sebuah film. Seperti yang dilakukan oleh sinematografer handal Hollywood Roger Deakins di film Unbroken. Film yang masih berkisah tentang Perang Dunia II ini memiliki tone kekuningan, yang menggambarkan seperti apa seharusnya film bertema sejarah terlihat. Tidak hanya dihiasi oleh visual efek yang canggih, tapi Roger Deakins sang sinematografer juga mampu memperlihatkan momen-momen khas pada saat Perang Dunia.

Warna juga dapat menjadi komuikasi non verbal untuk menyampaikan suatu pesan. Kemudian banyak penelitian mengenai eksistensi warna-warna terhadap psikologi manusia. Dari penelitian tentang warna mempengaruhi psikologi manusia, terdapat fakta bahwa warna dapat mempengaruhi psikologi, suasana hati, emosi, dan kesehatan. Ilmu komunikasi visual menggunakan warna untuk terapi warna atau yang disebut colourology (menggunakan warna untuk meyembuhkan). Seperti contoh penggunaan warna merah yang memiliki arti amarah, gairah, panas, agresi, bahaya, api, darah, perang, kekerasan, akan sangat tidak cocok di masukkan ke dalam genre film keluarga yang menampilkan kehangatan dan happy ending story. Film dengan happy ending haruslah memakai warna kuning yang memiliki arti hikmat, relaksasi, sukacita, kebahagiaan, optimisme, harapan, sesuai dengan keadaan yang dituju didalam sebuah film yang memiliki cerita kehangatan dan romantisme di dalam sebuah keluarga.
Jadi seorang filmmaker yang baik khusunya sinematografer haruslah peka dan baik dalam memahami warna. Karena warna bukan hanya sekedar pemanis dalam menghasilkan sebuah gambar, tetapi lebih luas dari pada itu warna bisa digunakan untuk memperkuat cerita, mempengaruhi penonton dan juga sebagai terapi psikologis.


*Penulis adalah dosen tetap Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Ipmafa

0 Comments