Gambar Bagus Atau Gambar Bermakna


Oleh: Fajar Adhi Kurniawan, S.I.Kom, M.Si*

Media massa dalam cakupan pengertian komunikasi massa adalah radio, surat kabar, majalah, televisi dan film. Tanpa adanya emosi di dalam media massa juga akan sangat membosankan. Emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan. Film memiliki kesanggupan untuk memainkan ruang dan waktu serta mengembangkan dan mempersingkat secara bebas dalam batasan wilayah yang sangat luas. Dengan adanya media massa penyebaran informasi lebih mudah dan cepat. Perkembangan media khusunya film, menuntut Imajinasi yang sangat tinggi bagi sutradara dalam pembuatan film untuk dijadikan sebagai bentuk komunikasi dalam penyampaian makna emosi. Di dunia sinematografi sebuah gambar tidak hanya dimaknai sebagai proses penciptaan secara teknis tetapi juga harus memasukkan unsur emosi didalam setiap shot yang akan diambil.



Perencanaan gambar tidak hanya tentang alat yang mahal dan gambar yang bening, tetapi pada prakteknya sutradara yang berkolaborasi dengan director of photography/penata gambar harus bisa membuat gambar yang merepresentasikan emosi dari skrip yang sudah ada. Makna emosi pun bukan berdasarkan pada pemikiran penata gambar yang hanya fokusnya pada alat/teknis tetapi harus dibuat berdasarkan kebutuhan skrip. Penggambaran makna emosi bahagia, sedih, senang, histeris dan lain sebagainya harus betul terlihat jelas dalam sebuah gambar yang diambil, sehingga penonton akan ikut merasakan emosi yang ditawarkan oleh sutradara dan penata gambar dalam sebuah karya film.

Seperti yang disebutkan di dalam buku memahami film karya himawan pratista yang dirilis tahun 2008, unsur sinematografi secara umum dapat dibagi menjadi 3 yaitu kamera dan film, framing, serta durasi gambar. Dalam unsur kamera dan film mencakup teknik-teknik yang dapat dilakukan melalui kamera dan stok filmnya, seperti warna, penggunaan lensa, kecepatan gerak gambar dan sebagainya. Begitupun Framing yang harus betul pas dengan makna emosi yang akan disampaikan, Framing adalah hubungan kamera dan objek yang diambil seperti batasan wilayah atau frame, jarak, ketinggian, pergerakan kamera dan lain sebagianya. Dari ketiga unsur yang sudah disebutkan yang terakhir adalah durasi gambar yang berarti lamanya sebuah objek diambil gambarnya melalui kamera. Pemilihan teknik kamera yang jelas, framing dan durasi dalam menampilkan emosi akan menjadi nilai tambah untuk sebuah shot yang diambil.

Kemudian kebutuhan size shot dalam penggambaran makna emosi juga harus dipilih secara baik oleh sutradara dan penata gambar. Sebuah dialog di scene film menampilkan emosi sedih seorang aktor/aktris, seorang penata gambar harus peka dalam memilih size shot contohnya close up. Sehingga hasilnya pengambilan close up tidak hanya berfokus pada keindahan background bokeh (blur) dibelakang aktor atau aktris yang kita ambil gambarnya. Tetapi di dalam size shot close up yang diambil oleh seorang penata gambar mengandung makna detail kesedihan yang sedang dialami oleh aktor/aktris berdasarkan kebutuhan skrip.

Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa pengambilan gambar bukan berdasarkan hal teknis saja tetapi harus dilihat dari kebutuhan makna emosi yang ada di dalam sebuah skrip film. Sutradara yang baik haruslah tahu teknis begitupun sebaliknya penata gambar yang baik haruslah bisa memaknai skrip dengan baik. Pemuatan makna yang baik akan menjadikan film akan sangat menarik untuk di tonton bahkan bisa dijadikan bahan diskusi.

*Penulis adalah dosen tetap Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam 

0 Comments