(Senin, 18/3) KPI IPMAFA menyelenggarakan launching dan bedah film  berjudul 'tak serupa'. Sambutan disampaikan oleh Ketua program studi KPI (Arif Chasanudin, M.Pd.). Dalam sambutannya beliau berpesan untuk semua mahasiswa di samping matang secara teori juga mampu berkarya khususnya di industri perfilman. Menjadi satu keniscayaan bahwa di era 4.0 ini dunia kerja sangat memprioritaskan soft skill dari sekadar rutinitas kerja sehingga nantinya bisa menangkap peluang pasar.

Acara ini diikuti oleh mahasiswa KPI IPMAFA dan lainnya serta masayarakat umum. Antusiasme peserta terlihat begitu besar ketika acara dimulai. Acar ini diawali dengan memperkenalkan kru film yang semuanya mahasiswa KPI IPMAFA. Fil ini sejatinya adalah sebagai tugas akhir di mata kuliah Sinematografi yang diasuh oleh Bapak Shifaur Riham.

Film ini menangkap pesan bahwa adanya rupa karya seni tidak hanya bisa dinilai hanya dengan uang. Bagi seorang seniman, karyanya ibarat seperti anak kandungnya sendiri.

Dengan hadirnya film ini, kita mencoba belajar membedah berbagai konten yang dihadirkan. Kita juga belajar berbagai istilah, piranti dan berbagai kebutuhan produksi film dari mulai awal produksi sampai promosi. Film ini lebih menyasar pada kalangan 18 tahun ke atas untuk pengklasifikasian penontonnya. Mengingat ada beberapa adegan yang hanya diperbolehkan untuk ditonton kalangan khusus.

Pesan moral dirasa sangat penting untuk menghadirkan sebuah film. Di samping itu, simbol, gradasi, representasi hingga komparasi sangat mendukung sebuah film bisa layak edar. Kekuatan ide dasar juga dirasa penting.

Ada beberapa pertimbangan manakala sebuah film tidak sama persis dengan narasi dari novel aslinya. Mengingat kebutuhan produksi dan latar yang kemudian ingin dihadirkan dari film itu sendiri. Penting juga kita mengetahui premis sampai penokohan yang akan ditarik dari film tersebut.

Semoga dengan adanya short movie yang mengangkat genre lokal khususnya budaya Pati Utara-Selatan, baik dari segi dialek, sosio-geografis, lebih menumbuhkan minat generasi muda ke depan untuk 'nguri-nguri budaya' atau dalam arti tetap melestarikan hak kekayaan budaya bangsa dan mempromosikan sesuai kebutuhan pasar. (Tim Redaksi)

sumber :https://www.kompasiana.com/arinauje/5c9050a20b531c23e4412842/film-tak-serupa-penyatuan-dialek-pati?fbclid=IwAR3SDNPf4WVlnsOtRLENrifV29nZVJQwv7KSZ55HV5CQuS8vQp2g27oRrYk
Share To:

Post A Comment:

0 comments so far,add yours